Carilah Wajah-Ku

Diambil dari buku "Carilah Wajah-Ku" - Menemukan dan menghadirkan wajah Allah.

RENUNGAN

Patrisius Pa, SVD

1/8/2026

SIAPA sesungguhnya yang lebih dahulu mencari? Allah lebih dahulu mencari manusia ataukah manusia yang lebih dahulu mencari Allah? Apa motivasi pencarian itu? Dan tidak hanya mencari, melainkan berusaha menemukannya yang hilang dengan hati gembira. Refleksi ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Manusia "Pencari Allah"

Michel Quoist, imam dan penulis rohani, membagi pengalaman imannya sebagai berikut. "Dahulu saya senang menyebut diri saya sebagai 'pencari Allah'. Mengapa? Karena saya yakin itu sesuai dengan pengalaman iman, pengetahuan, dan profesi saya. Sebagai guru, saya mengajar pengetahuan agama dan tekun mencari Allah dalam buku-buku.

Tetapi, siapakah Allah yang saya cari? Perlahan-lahan saya mengerti dan memahami bahwa pertama sekali bukan ide besarlah yang saya cari, dan bukan pula suatu ajaran moral. Sebaliknya, yang saya cari adalah 'sesosok Pribadi'. Pribadi yang saya cari itu perlahan-lahan menyatakan dalam diri saya yang sedang mencari-Nya. la adalah Cinta. Ia sepenuhnya adalah Cinta. Ia adalah Pribadi Allah yang berwajah cinta. Wajah Allah adalah Cinta (bdk. 1Yoh 4:8.16)." Sering manusia modern kecewa mencari Allah. Pencari Allah patah hati dan menjadi manusia yang memang mencintai, tetapi hatinya "dirundung rasa kecewa". Manusia modern sering bertanya, "Untuk apa capek-capek mencari Allah? Wajah Allah tetap tersembunyi. Kita sulit menemukan-Nya."

Mengapa Manusia Sulit Menemukan Wajah Allah?

Itu boleh jadi karena manusia modern mencari Allah dalam metode-metode dan teori-teori, dalam ide-ide yang mengawang. Manusia modern tidak mencari Allah sebagai sosok pribadi yang mencari.

Boleh jadi, kita sulit menemukan Wajah Allah karena kita salah paham mengenai Jati Diri Allah. Kita berpikir bahwa Allah berada di luar dan jauh dari kita. Allah cuma ada dalam bayangan dan pikiran kita seperti menghafal kata bahasa asing. Kalau hati itu terlupa, kita juga lupa akan Allah kita. Akan tetapi, satu sebab yang pasti ialah karena kita selalu merasa bahwa kita berupaya mencari Allah-dan bukannya Allah yang mencari kita.

Konsentrasikan mata melihat keempat titik di tengah gambar sekitar 10 detik. Setelah itu, coba berpaling lihat ke dinding. Apa yang terlihat?

Aku menghitung setiap helai rambut di kepalamu;

Aku menuntun engkau, menapaki setiap langkahmu;

Di mana pun engkau pergi....Aku pergi bersamamu;

Di mana pun engkau beristirahat, Aku menjagamu.

Aku akan memberikan makanan yang memuaskan rasa laparmu, dan minum untuk memuaskan rasa hausmu.

Aku tidak akan menyembunyikan Wajah-Ku darimu; Engkau milik-Ku.

Aku adalah Bapa dan ibumu yang mencintai engkau. Aku mengasihi engkau dengan cinta pertama, cinta kekal (bdk. Yer 31:3).

Aku memanggil engkau dengan namamu Namamu telah terpatri di dalam hati-Ku

Engkau adalah kepunyaan-Ku Engkau berharga di mata-Ku dan mulia

Aku inilah yang mengasihi engkau (bdk. Yes 43:1-4).

Manusia Berdosa, Berpaling dari Wajah Allah

Allah mencari manusia karena manusia telah berpaling dari-Nya, dengan menyembunyikan diri seperti dilakukan Adam yang bersembunyi di balik pohon-pohon di Taman Eden (Kej 3: 8-10).

Manusia membiarkan diri disesatkan oleh musuh Allah, yakni setan (Kej 3:13). Karena kedegilan hati dan keangkuhannya, manusia mau menata sendiri dunia ini, tanpa memperhitungkan kehendak Allah (bdk. Kej 3:17-19). Dosa menjauhkan manusia dari Allah. Namun, Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia di dunia. Terdorong oleh cinta-Nya yang begitu besar, Allah turun menjadi manusia melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Kristus harus melaksanakan karya penebusan itu dangan harga yang sangat mahal. Ia melunasi utang dosa dan mendamaikan kembali manusia dengan Allah melalui kurban darah dan mati di kayu salib (bdk. TMA No.7)

Dengan menerima kematian pada salib, Kristus memperlihatkan Wajah Allah yang berbe las kasih. Oleh kebangkitan-Nya, Kristus memberi kehidupan baru kepada umat manusia yang bertobat dan percaya kepada-Nya. Dalam rahmat penebusan itu, manusia yang telah jauh dari Allah didekatkan kembali dan berdiam dengan aman di hadapan Wajah-Nya Yang Kudus. Jelas bagi kita sekarang bahwa Allahlah yang pertama-tama mencari kita dalam Kristus.

Allah mencari kita dengan hati gembira karena CINTA. Hendaknya kita bersyukur, berdoa, dan mewartakan cinta Allah dengan penuh sukacita (bdk. Flp 1:3-5). Kiranya hati kita selalu haus akan Allah, mau mengikuti Firman-Nya seperti lantunan madah sang Pemazmur, "Carilah Wajah-Ku; maka Wajah-Mu, kucari, ya Tuhan" (Mzm 27:8).