Refleksi 2. Carilah Wajah-Ku
RENUNGAN
Patrisius Pa, SVD
3/1/20269 min baca
PUASA : MENJADI SERUPA DENGAN WAJAH KRISTUS
Santo Paulus, Rasul Gereja Perdana menegaskan bahwa dalam kuasa Roh, kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan Wajah Kristus (2Kor 3:18). Sehubungan dengan ini, mendiang Paus Yohanes Paulus II (Santo Yohanes Paulus II) mensinyalir bahwa misi kita adalah memulihkan Wajah Kristus dalam wajah manusia penuh derita (TMA No. 7 – Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II Tertio Millennio Adveniente 1997. Yogyakarta : Penerbit Kanisius).
Puasa adalah jalan, saat penuh rahmat bagi kita untuk menjadi serupa dengan Wajah Kristus. Pada kesempatan ini, saya ingin mengemukakan Sapta Paradigma Prapaskah atau Tujuh Jalan Puasa untuk dapat bertumbuh-kembang menjadi serupa dengan Wajah Kristus.
1. Jalan Mistik – Waktu untuk Berdoa
Masa Puasa merupakan waktu untuk bersatu dengan kesengsaraan Kristus dalam doa dan keheningan. Berpuasa berarti berdoa dengan penuh kerendahan hati, merebahkan jiwa dihadapan Allah, menyatakan sikap ketergantungan pada Allah. Dalam doa yang khusyuk itu, kita berjumpa dengan Allah. Puasa Yesus di padang gurun adalah suatu tindakan penyerahan diri yang penuh pengharapan kepada Allah Bapa, sebelum Ia memulai misi-Nya.
Pada waktu puasa, kita perlu memasuki kesunyian padang gurun kehidupan kita sehari-hari untuk bersatu dengan Kristus, Hamba Yang Menderita. Dalam keheningan doa, kita memusatkan diri dengan lebih sadar pada kehadiran Yesus dalam wajah pria-wanita, kaum pinggiran, dan para pendosa yang kita jumpai dalam ziarah hidup kita sehari-hari.
Jalan mistik berarti kita dengan iman yang penuh antusias bersatu hati dengan Kristus yang menderita dan penuh cinta memandang Wajah Kristus dalam wajah sesama yang miskin, tersingkir, tertindas, terabaikan, yang mengalami krisis identitas dan panggilannya.
Puasa kita pada jalan mistik ini mengajak kita untuk lebih tekun dan setia meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi dan bersama-sama. Kita menjiwai umat bahwa Allah tidak memihak pada mereka yang mengabaikan keadilan, melainkan memperhatikan mereka yang menderita dan miskin karena ketidakadilan. Kita mengajak mereka untuk berdoa mohon keadilan dan perdamaian di dunia.
Pada saat ini, ketika kita merasa seakan-akan Allah bungkam terhadap kesulitan kita, kita memasrahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh iman: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku"(Mat 27:46). Dalam kesatuan hati dengan Kristus yang menderita, kita menyerahkan seluruh hidup dan perjuangan kita sepenuhnya kepada Bapa Surgawi: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk 23:46). Doa Yesus ini menjadi doa kita.
2. Jalan Kenosis – Waktu untuk Mengosongkan Diri
Unsur inti dari semangat berdoa adalah hasrat untuk mengosongkan diri supaya kita dapat dipenuhi oleh Roh Allah sebagaimana Yesus berpuasa di padang gurun. Semangat kenosis atau pengosongan diri dapat lebih daripada sekadar mengurangi makanan dan minuman. Kita perlu menyangkal diri lebih lagi dengan menanggalkan keakuan kita, rencana dan pikiran pribadi, membatasi kesenangan dan agenda kegiatan harian kita untuk memberi kesempatan kepada Allah untuk mengisi jadwal kita.
Kita berpuasa agar kita semakin bersedia meninggalkan segala sesuatu yang melekat pada diri kita dan memberikan hidup kita secara lebih penuh dan bebas demi kebahagiaan sesama kita. Kita ikut menderita bersama Kristus yang telah rela mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang manusia, dan menjadi sama dengan manusia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat kepada Bapa hingga mati di kayu salib.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi menandaskan :
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, la telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Flp 2:5-11).
3. Jalan Metanoia – Waktu untuk Bertobat!
Dewasa ini kita menghadapi berbagai masalah yang sungguh menantang iman kita seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan, perpecahan dan konflik antar suku-ras-agama-budaya, pelecehan nilai-nilai hidup, berbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan .Itu semua merupakan ungkapan terang-terangan keberdosaan manusia. Mungkinkah kita orang-orang Kristiani turut menyebabkan dosa-dosa dan masalah-masalah itu? Kita, orang-orang Kristiani, para imam, religius, dan awam, dipanggil untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari dosa, yakni Kerajaan Cinta dan Damai Sejahtera.
Pada masa puasa, kita diundang untuk membiarkan diri kita diubah oleh Roh Kudus menjadi manusia baru serupa dengan Wajah Kristus. Kesetiaan kepada bimbingan Roh Kudus berarti pula kita harus membiarkan Roh Kudus mengubah perilaku dan sikap hidup kita sesuai dengan perilaku dan sikap hidup Yesus yang tahu mengampuni dan berbela rasa. Bertobat itu harus mulai dari diri sendiri. Pastor Anthony de Mello, SJ menyadarkan iman kita: "Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tidak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri" (Burung Berkicau, hlm. 110).
Pertobatan sejati menuntut perubahan hati. Nabi Yoel berpesan pada awal masa puasa ini: "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab la pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya"(Yoel 2:13). Tobat sejati menuntut kita untuk menanggalkan Diri Palsu / Diri Lama kita yang terselimut topeng-topengan dan mengenakan Diri Sejati / Diri Baru yang telah diubah oleh Roh Kudus menjadi serupa dengan Wajah Kristus. Tobat sejati mendesak kita untuk memulihkan Wajah Kristus dalam wajah manusia penuh derita yang kita sentuh hidupnya, baik di dalam komunitas maupun di dalam lingkungan pelayanan misioner kita. Tobat sejati menuntut kita untuk menjadi terang bagi sesama yang masih tinggal dalam kegelapan iman dan memampukan mereka untuk percaya kepada Krisus dan Injil-Nya bahwa Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah mereka (bdk. Mrk 1:15).
Bapa Suci Mendiang Paus Yohanes Paulus II (Santo Yohanes Paulus II)menegaskan bahwa sukacita pada milenium baru ini adalah sukacita pertobatan-sukacita metanoia, yang merupakan prasyarat untuk berdamai dengan Allah dari pihak individu-individu maupun dari komunitas-komunitas Gerejawi (TMA No. 32).
4. Jalan Rekonsiliasi – Waktu untuk Berdamai
Pada masa kehidupan Yesus, puasa dihargai sebagai saat untuk rekonsiliasi atau pendamaian (bdk. Im 23:26-29; Kis 27:9-12). Dalam terang ini, masa puasa kita hormati sebagai masa rahmat, masa pendamaian, masa rekonsiliasi. Jalan rekonsiliasi itu dihayati sebagai prakarsa Allah melalui Yesus Kristus atas kuasa Roh Kudus sebagai Roh Rekonsiliasi. Namun, sekaligus jalan ini merupakan suatu tugas bagi setiap orang Kristiani. Kristus mempercayakan berita pendamaian itu kepada setiap kita (bdk. 2Kor 5:19). Kita, orang-orang Kristiani dipanggil untuk membawa damai. Dengan demikian, Doa Damai warisan rohani St. Fransiskus Asisi harus membumi di tanah air kita yang sementara memperjuangkan kerukunan dan persaudaraan: "Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu."
Upaya perdamaian yang kita cita-citakan itu mendorong orang-orang Kristiani untuk menghayati Kaul Anti-Kekerasan. Prasetia bersikap tanpa kekerasan itu dikumandangkan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit.
"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"(Mat 5:9). Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Mat 5:43-45).
Kaul Anti-Kekerasan itu menuntut kita untuk berdamai dulu dengan diri sendiri. Damai harus mulai dari diri sendiri, dari hati yang baru, hati yang berbelarasa dan rela mengampuni. Dalam derita yang mengerikan di kayu salib, Yesus masih sempat mendoakan mereka yang memperlakukan diri-Nya secara tidak wajar. Yesus berdamai dengan diri sendiri dan memahami situasi mereka dan bahkan memohon pengampunan atas ketidaktahuan mereka. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34).
Sikap Yesus yang lembut-mengampuni ini menjadi prasetia Anti-Kekerasan kita dalam menghadapi berbagai kerusuhan di Bumi Pertiwi ini.
Akhirnya, jalan puasa ini mengajak kita untuk berdoa mohon persatuan semua orang Kristiani- "communio", Persekutuan Kasih Sejati di dalam komunitas kita masing-masing, di dalam Gereja, dan Persekutuan seluruh alam semesta. Demikian Yesus Imam Agung berdoa sebelum sengsara-Nya: "Bapa, semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita" (Yoh 17:21). Doa Yesus kepada Bapa-Nya untuk persatuan ini, kiranya menjadi doa kita!
5. Jalan Keadilan – Waktu untuk Menegakkan Keadilan
Masa puasa adalah saat suci untuk menegakkan semangat keadilan. Yesus dalam hidup-Nya berjuang menegakkan keadilan Allah. Tuhan adalah adil dan Ia menegakkan keadilan Allah (bdk. Mzm 11:7). Menegakkan keadilan Allah berarti berusaha mendahulukan kaum malang dan terbuang, membebaskan serta menghormati hak-hak dan kepentingan-kepentingan mereka yang diperas (bdk. Mzm 146:7), yang tertindas dan lemah (bdk. Luk 1:52-53; 4:18-19).
Yesus setia menapaki jalan salib-Nya sampai mati di Gunung Kalvari. Sepanjang ziarah salib itu, la menanggung ketidakadilan yang kejam dan tanpa batas terhadap diri-Nya dan terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Ia mengubah jalan salib yang memedihkan itu menjadi "Jalan Keadilan".
Puasa kita dewasa ini juga merupakan sebuah ziarah salib menuju keadilan, jalan yang coba mempersoalkan ketidakadilan dalam masyarakat kita. Secara khusus puasa kita pada masa sekarang ini, harus mampu menciptakan manusia baru yang bersikap adil dan beradab, manusia baru yang cinta damai dan keadilan. Sebab ketidakadilan itu menyembunyikan Wajah Allah terhadap mereka yang miskin dan tersingkir dari bumi Ibu Pertiwi ini. Ziarah salib sebagai Jalan Keadilan ini memperjuangkan perubahan masyarakat baru dan menghadirkan Wajah Allah yang lembut dan penuh kasih bagi mereka. Masa milenium baru ini mendesak kita untuk memulihkan keadilan sosial(TM No. 13).
Orang-orang Kristiani berkewajiban untuk memantulkan keadilan Allah dengan hidup sebagai anak-anak terkasih Allah dan "menghasilkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran"(bdk. Ef 5:9). Jangan sampai kita harus dicela oleh Yesus yang adil (bdk. 1Yoh 2:1) sebagaimana halnya para Ahli Taurat dan orang Farisi yang" mengabaikan nilai-nilai terpenting dalam hukum Taurat, yaitu keadilan dan belaskasihan serta kesetiaan" (bdk. Mat 23:23).
Orang-orang Kristiani dipanggil untuk terlibat dalam peran kenabiannya, mewartakan Sabda Allah tanpa kompromi, membela keadilan Allah bagi umat yang tak berdaya. Kita perlu belajar bersikap jujur, berlaku adil dan benar mulai dari komunitas sendiri. Dengan cara begini, kita belajar menjadi serupa dengan Wajah Kristus yang gigih memperjuangkan dan memenangkan keadilan Allah di dunia fana ini.
Baiklah kita belajar dari figur imam yang dekat dan akrab dengan kita, yakni Romo Mangunwijaya. Ia menjadi serupa dengan Wajah Kristus dengan hidup tulus ikhlas, setia kawan, berbuat adil, dan mati bagi "Wong Cilik".
6. Jalan Solidaritas – Waktu untuk Beramal
Berpuasa adalah sarana bersolidaritas. Pada masa ini, kita diajak untuk lebih banyak berbuat baik dan melayani sesama yang sangat membutuhkan perhatian dan cinta kita. Kita dipanggil untuk membiaskan sinar kasih Wajah Allah kepada saudara-saudari kita yang patut mendapat pertolongan secara utuh, yakni saudara-saudari yang miskin secara ekonomis karena tak punya harta, tanah, rumah dan pakaian sewajarnya, makanan secukupnya untuk menyambung hidup; saudara-saudari yang lemah fisiknya lantaran sakit, cacat bawaan, lumpuh, bisu tuli dan buta mata serta lanjut usia; saudara-saudari yang rapuh psikis-jiwanya lantaran dihina, dianggap rendah, frustrasi, stres, putus asa; saudara-saudari yang mengalami keterasingan lantaran dikucilkan, disingkirkan, dipojokkan dalam pergaulan di tengah masyarakat; saudara-saudari yang menderita kegersangan rohani lantaran goncang imannya, ragu-ragu akan panggilannya, bosan berdoa, malas ke Gereja, murtad, cenderung hidup profan,dan ketagihan akan kenikmatan hidup duniawi.
Solidaritas Allah yang tak terhingga kepada manusia hendaknya menjadi dasar solidaritas kita semua kepada sesama kita. Solidaritas dan bela rasa Allah dalam kerapuhan manusia mencapai puncaknya dalam diri Yesus yang menghampakan diri-Nya dan mati di kayu salib sebagai model kesaksian solidaritas kita. Hati Yesus selalu "tergerak oleh belas kasihan" memandang umat-Nya seperti domba malang yang tidak bergembala (Markus 6:34).
Puasa pada jalan solidaritas, mengajak kita untuk meneladani Santa-Bunda Teresa dari Kalkuta. Ia memulihkan Wajah Yesus dengan melayani orang-orang sakit dan menderita. Ia berkata, "Saya menjumpai Wajah Yesus dalam wajah orang miskin dan menderita."
7. Jalan Pembebasan – Waktu untuk Membebaskan
Berpuasa mesti disertai dengan pelayanan kasih kepada sesama yang malang dan terluka hatinya. Hari-hari puasa adalah kesempatan untuk hadir lebih penuh bagi orang di sekitar kita, menyisihkan waktu bagi sesama kita agar solidaritas puasa menjadi lebih murni. Kita hadir secara pribadi untuk membawa rahmat pembebasan sejati bagi sesama kita yang terbelenggu oleh berbagai tekanan batin dan beratnya beban salib hidup di dunia ini. Terlebih kita membawa pembebasan batin bagi sesama yang disingkirkan dan dikucilkan dari hidup bersama dalam komunitas dan masyarakat. Kita perlu menerima mereka apa adanya dan menemukan kembali harga diri dan keluhuran panggilan sesama yang ditinggalkan.
Puasa adalah suatu panggilan untuk memaklumkan rahmat pemerdekaan sejati dan membangun persekutuan kasih dengan semua orang. Yesaya mengingatkan kita (Yes 58:6-10),
"Puasa yang kuhendaki ialah: Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk; Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk; Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar, Supaya engkau membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah; Supaya engkau memberi pakaian terhadap orang yang telanjang; Supaya engkau tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri; Supaya engkau membawa terang bagi orang yang tinggal dalam kegelapan!"
Yesus mengedepankan suatu terobosan baru dalam penghayatan puasa kita: "Makan bersama orang berdosa, memberikan roti sebagai ungkapan bela rasa dan solidaritas kita dengan orang miskin lebih penting daripada puasa" (bdk. Mrk 2:18-22; Mat 11:16-19; Luk 7:31-35).
Orang yang "berada" harus berpuasa dengan memberikan harta miliknya kepada orang yang miskin supaya mereka boleh menikmati lebih. Yesus tidak membantah aturan puasa, tetapi memurnikan penghayatan puasa. Berpuasa berarti membawa keselamatan bagi yang tersesat, yang lapar dan haus akan kebenaran cinta! Sabda Yesus mempunyai makna bagi kita bila kita rela mengorban diri kita, menjadikan diri kita sebagai santapan kehidupan bagi sesama kita seperti Yesus menjadikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan kehidupan kekal bagi kita.
Puasa kita menjadi lebih bermakna bila kita mampu menjalin persatuan dan membawa kegembiraan rohani bersama dalam hidup harian kita. Puasa itu punya nilai lebih personal dan sarana keselamatan, bukan sekadar sebuah aturan mati raga dan askese biasa. Berpuasa berarti hadir diantara orang-orang berdosa dan tersingkir, menjadi pengantara rahmat keselamatan bagi mereka!
Sapta Paradigma Prapaskah – Tujuh Jalan Terpadu-Utuh
Sapta Paradigma Prapaskah atau Tujuh Jalan Puasa yang ditawarkan merupakan satu-kesatuan yang utuh untuk membentuk kita menjadi serupa dengan Wajah Kristus dalam kekuatan Roh. Kita turut ambil bagian dalam kesengsaraan dan penderitaan-Nya. Kita mau memberi makna baru bagi puasa kita pada zaman globalisasi ini, dengan menghayati secara konsekuen Tujuh Jalan Puasa kita agar kita dapat bertumbuh-kembang menjadi manusia paripurna dalam Kristus dan sempurna seperti Bapa (bdk. Mat 5:48).
Bersama Rasul St.Paulus, kita menegaskan iman kita: "Aku menjadi serupa dengan Kristus dalam kesengsaraan dan kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Flp 3:10-11).
Contact
Reach us for bookings and inquiries
+62 821-4421-2701
© 2025. All rights reserved.